20.3.08

CANTIK ALA

Candik ala
oleh GM Sudarta

Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah
berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut
kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut
sore "candik ala". Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa
malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan
masuk ke dalam rumah.

Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti
takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal
aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti
akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah,
dengan kata yang tak kupahami maksudnya: "Ora ilok!" kata ibu.

Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku
tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah
berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka
menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya:

"Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang."

"Apa nggak kena penyakit karena candik ala, Bu?" tanyaku tak sabar.
Ibu diam saja.

Memang, kadang-kadang setengahnya aku kurang percaya dengan hal-hal
aneh demikian, tapi kadang kala pula hati dibuat ciut dengan kejadian
seperti yang pernah kami alami tahun lalu. Menjelang tengah malam
kudengar suara kentongan bertalu-talu, seperti jutaan kentongan
dipukul bersamaan. Semula terdengar samar-samar, seperti dari
kejauhan, semakin lama semakin keras seperti semakin mendekat. Ibu
segera berdiri di balik pintu depan, sambil komat kamit membaca doa.
Kudengar sepotong doanya:

"Ngalor, ngalor, aja ngetan aja ngulon."

Kupeluk kaki ibu karena ketakutan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.

"Ada gejog," kata ibu, "Nyai Roro Kidul bersama bala tentaranya sedang
berarak menuju istananya di gunung Merapi. Orang yang tinggal dekat
Segara Kidul, yang pertama kali melihat ombak laut besar dan suara
gemuruh, mulai memukul kentongan. Itu pertanda Nyai Roro Kidul keluar,
naik kereta kencana, diiringi para serdadu jin. Kemudian orang desa
yang akan dilewati rombongan itu beramai-ramai memukul kentongan
supaya beliau tidak singgah ke desanya. Karena setiap beliau singgah,
beliau akan mengambi abdi dalem baru."

Aku tetap kurang paham akan keterangan ibu. Yang aku tahu ibu telah
berdoa supaya rombongan itu tidak singgah ke sebelah timur Gunung
Merapi, letak desa kami.

Beberapa hari kemudian, malamnya, dua lelaki berseragam loreng datang
ke rumah dan mengajak ayah pergi, sepertinya dengan cara paksa. Ibu
mengejar sampai halaman depan sambil memohon supaya ayah jangan dibawa
dengan penuh iba.

"Ayah dibawa Nyai Roro Kidul ya Bu?" tanyaku.

"Hush!" jawab ibu sambil bergegas langsung masuk kamar tidur. Kudengar
tangisan ibu menyayat hati.

Berita tentang perginya ayah merebak ke seluruh desa. Meskipun tak
begitu aku pahami artinya, kudengar dari Lik Kasdi, pamanku, bahwa
ayahku terlibat. Terlibat apa aku kurang jelas, hanya yang kuketahui
juga dari tetangga bahwa ayahku adalah seorang pegawai negeri yang
suka memberi penyuluhan kepada para petani.

Sejak itu, ibu kerap pergi dengan menjinjing rantang berisi nasi
dengan lauk ikan asin dan sayur daun singkong kesukaan ayah. Kami,
anak-anak, tidak diperkenankan ikut serta. Beberapa kali, aku yang
merasa anak terkecil suka merengek minta ikut. Dengan sedikit marah
ibu menjawab:

"Ibu akan nengok ayahmu yang sedang kerja, kamu jangan ganggu dia!"

Pasti ayah sedang kerja lembur, pikirku. Tetapi beberapa bulan
kemudian, ibu tidak bisa lagi berbohong, karena kemarin aku dengar
dari Lik Kasdi, bahwa ayah ditahan di kota.

Dan dia bercerita panjang lebar, tentang pemberontakan besar. Waktu
itu yang tertangkap dalam otak kecilku adalah tentang para jenderal
yang dikorbankan dimakan buaya di sebuah lobang.

"Ayahmu sedang berjuang," ujar ibu dengan wajah keruh ketika aku tanya
soal tahanan ayah. Tanpa tahu apakah yang dimaksud dengan berjuang,
yang pasti aku kerap kali menangis sendirian bila malam waktu tidur
tiba. Setiap bangun pagi, ibu melihat mataku sembab. Rupanya ibu pun
tahu akan kerinduanku pada ayah. Kulihat air matanya mengembang.
Kemudian memelukku erat-erat, dan tangisnya tertahan meskipun air
matanya deras membasahi pundakku. Jadinya aku ikut menangis tanpa
kutahu sebabnya.

Sore itu, cahaya candik ala menyelinap lewat jendela menerpa lemari
kaca tempat memajang foto ayah dalam bingkai. Mungkin karena rinduku
pada ayah, kulihat seakan foto ayah bergerak, tangannya melambai
kepadaku. Terasa di dalam dadaku ada yang menggelepar- gelepar.

Kudengar pula dari Lik Kasdi, ayah bersama para tahanan beberapa lama
ini sedang dipekerjakan membuat tanggul sepanjang rawa besar di daerah
tak jauh dari rumah kami. Katanya tanggul yang sepanjang tiga
kilometer ini sekaligus untuk jalan penghubung antardesa yang terpisah
oleh rawa. Karena rinduku tak tertahankan lagi, dengan mengendap-endap
lewat pintu dapur, tanpa sepengetahuan ibu dan tanpa takut dengan
cuaca candik ala, sambil membawa pancing bambu, kugenjot sepedaku lari
kencang ke rawa, dengan harapan ayah masih di sana.

Setiba di sana, nampak banyak orang berseragam loreng dengan
menyandang senjata laras panjang. Mereka berjaga di sebelah timur
rawa, di mana kulihat ratusan orang sedang bekerja menggali tanah dan
mengangkat batu. Dalam terpaan cahaya kuning, wajah-wajah kurus
semakin mempertegas cekungan mata bagai mayat hidup. Dadaku
berdebar-debar, tak sabar untuk bisa cepat-cepat bertemu ayah, yang
mungkin ada di sana. Beberapa meter sebelum mencapai tempat mereka,
seorang petugas mengusirku, dan menyuruhku mancing agak jauh dari situ.

Kutaruh sepeda di pinggir jalan, kemudian duduk mencangkung di atas
batu padas di pinggir rawa. Dengan berpura-pura memancing, terus
kutajamkan mataku mencari ayah di antara ratusan orang yang sedang
bekerja. Langit yang membiaskan warna kuning agak menyilaukan mataku,
sehingga sulit mencari di mana ayah berada. Ketika langit berubah
warna memerah, pertanda magrib menjelang tiba, dan ketika aku nyaris
putus asa, kulihat di kejauhan seseorang berdiri tegak memandang ke
arahku, sementara yang lain masih bekerja…. Itulah ayah!

Kulempar pancing, tanpa menghiraukan para petugas, aku pun berlari,
menangis sambil berteriak keras-keras memanggil ayah. Ayah seperti
tertegun melihat kedatanganku.

Tetapi kemudian wajahnya berubah gembira, meskipun kulihat seperti
dipaksakan. Lengannya terentang menyambutku. Kujatuhkan diriku memeluk
lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat ayahku sangat kurus dan
lusuh, tapi nampak diusahakan selalu tubuhnya ditegap-tegapkan.

"Kapan ayah pulang? Kapan, yah, kapan?" tanyaku berulang-ulang

Ayah tersenyum lebar sambil jawabnya: "Nanti kalau kerja besar ini
selesai, cah bagus."

Beberapa petugas mendekati kami. Ayah bicara kepada mereka beberapa
saat, kemudian kami dibiarkan berdua. Kami hanya berpelukan sampai
terdengar peluit tanda usai kerja. Kami bergerak bersama para tahanan
menuju truk-truk yang sudah tersedia, sambil kupeluk pinggang ayah.

"Ayah tidak kena penyakit karena candik ala?" tanyaku.

Ayah tertawa. Sambil mengelus rambutku ayah bekata:

"Tidak mungkin ayah kena. Ayah sehat karena banyak makan sayur."

Kemudian ayah membopongku, menciumiku sambil tawanya yang nampak
dipaksakan pula. "Ayah nanti tidur di p..p..penjara? " tanyaku
terbata-bata menahan tangis.

"Siapa bilang, he..he..he, bukan di penjara, tapi di hotel!"

"Ayah sedang berjuang?" tanyaku kemudian. Ayah nampak kaget.

"Ibu yang bilang…," kataku menjelaskan. Ayah tertawa mendengar ini.

Menjelang dekat truk, ayah berjalan dengan tegak sambil menyanyikan
sebaris lagu Indonesia Raya. Para petugas dan para tahanan
terheran-heran, memandang kami. Setelah menurunkan aku dari
gendongannya, ayah melompat ke bak truk. Sambil menoleh kepadaku, ayah
mengacungkan tinju ke atas, dan katanya keras-keras:

"Ingat Aryo, kamu harus selalu berjalan tegak, menghadapi nasib apa
pun. Termasuk kalau ada candik ala…. Dan jangan lupa lagu Indonesia Raya!"

Barisan truk pelan-pelan semakin jauh meninggalkanku sendirian di
pinggir rawa. Tak terasa air mata membanjir membasahi pipi.

"Ayaaaaaaaaah! !" teriakku keras-keras muncul sendiri tanpa kusadari.

Saat usia sekolahku tiba, suatu malam Lik Kasdi, yang sudah menjadi
carik desa, datang mengunjungi rumah kami. Di ruang depan dia bicara
setengah berbisik kepada ibuku. Dari balik pintu kamarku, kutangkap
pembicaraan mereka, bahwa ayah sudah menyambut maut dengan gagah
sambil menyanyikan Indonesia Raya, katanya.

"Saya sudah berusaha keras menolongnya, Mbakyu," ujar Lik Kasdi,
"Sudah kuberi bukti bahwa Mas Kasman tidak terlibat, melainkan karena
fitnah bekas bawahannya yang sakit hati karena dia pecat." Aku mau
menangis keras, tapi terasa tenggorokanku tercekik. Semalam suntuk aku
terduduk di balik pintu kamar, sambil mendengar isakan ibu dan Yu
Rini, berkepanjangan di kamarnya.

Tiga tahun kemudian, ibuku pun menyusul ayah. Bukan karena diambil
Nyai Roro Kidul, melainkan oleh sakit batuk yang diidapnya sekian
lama. Yu Rini pun menikah dengan seorang aparat desa dan aku ikut
dengannya. Berpuluh tahun kemudian, setelah melewati berapa puluh sore
candik ala, setiap cuaca demikian, ada sesuatu yang pedih, seakan ada
yang pecah berkeping-keping di dalam dadaku. Dan telah sekian puluh
tahun pula aku mencoba benar-benar berjalan tegak, tapi sangatlah
sulit. Hanya karena aku adalah anak kandung ayah. Dan semua orang
masih saja mengingat ayah adalah ayah kandungku.

Sekarang ini, aku masih juga mencoba berjalan tegak, meskipun sudah
sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi hanya baru bisa melata di
tanah!

Klaten, 2005

Catatan:

Candik ala: pertanda buruk dengan cuaca sore yang membiaskan warna kuning

Ora ilok: pamali, larangan

Gejog: barisan roh halus

Nyai Roro Kidul: Ratu Laut Selatan

Ngalor, ngalor, aja ngetan, aja ngulon: ke utara, ke utara, jangan ke
timur jangan ke barat

Segara Kidul: Laut Selatan

Kali Woro: sungai besar di lereng gunung Merapi yang dipenuhi pasir
dan lahar dingin

0 komentar: